Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Nasional menyebut salah satu penyebab tanah bergerak dan longsor di Ponorogo adalah hutan dan perbukitan gundul.
paringan.blogspot.com
Hutan di perbukitan banyak yang di alihfungsikan menjadi pemukiman, lahan pertanian dan lahan perkebunan. “ Alih fungsi hutan dan banyaknya penebangan pohon di lereng dan perbukitan menjadi salah satu faktor utama bencana longsor dan tanah bergerak di Ponorogo,” kata Kepala Tim Penanggulangan Bencana Tanah Longsor Nasional, Heri Purnomo.

Dari empat desa di Ponorogo yang kerap terjadi longsor dan tanah bergerak semuanya berada di daerah yang lahan hutannya gundul dan telah beralih fungsi, tutur Heri.

Pohon-pohon yang memiliki akar kuat dibabat habis oleh warga di beberapa desa itu yang sering terjadi bencana longsor dan tanah bergerak. Padahal, pohon yang memiliki akar kuat itu sangat penting untuk mencengkeram tanah dan menyimpan air saat hujan mengguyur.

Selain hutan gundul, kata Heri, penyebab bencana tanah bergerak di Ponorogo karena sifat fisik tanah di Desa Talun, Desa Sriti, Desa Tugurejo, dan Desa Bekiring. Tanah di desa-desa tersebut gembur dan mudah menyerap air sehingga saat hujan dengan intensitas tinggi langsung membuat tanah tidak stabil dan turun.

Heri mengharapkan seluruh warga di lokasi rawan bencana alam untuk selalu waspada ketika hujan deras. Selain itu, warga yang berada di daerah rawan bisa membangun rumah panggung dengan kayu bukan tembok, hal ini supaya rumah lebih mudah dipindah dan rusak parah saat terjadi tanah gerak.

Heri merekomendasikan Pemkab Ponorogo untuk melakukan reboisasi / penghijauan hutan. Hutan yang gundul bisa ditanami pohon dengan akar yang kuat dan jangan memotong lereng secara tegak lurus karena sangat berbahaya dan rawan longsor.



Source : MadiunPos